DIMANA LAGI YANG SEPERTI INI?

Selagi bisa bagi-bagi gambar, pengalaman, dan pemikiran. Tapi kenapa saya jadi serius begini ya?

Permalink Bali bukan cuma pantai! Bermain dan bercengkerama dengan beraneka burung yang memiliki warna-warna cantik di Bali Bird Park memang tiada bandingannya.
[Gianyar, Bali] 
Permalink Menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional yang dikemas modern di Saung Angklung Udjo memang tiada bandingannya.
[Bandung, Jawa Barat]
Permalink Pantai Baron yang teduh dan tersembunyi memang tiada bandingannya. Kita bisa berenang di air laut atau air tawar di satu tempat!
[Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta]
Permalink Melihat Danau Limboto dikelilingi perbukitan dari atas Benteng Otanaha memang tiada duanya.
[Gorontalo, Gorontalo]
Permalink Pasir putih, langit biru, laut biru, pohon hijau, ikan bakar enak, jagung serut gurih pedes cuma di Pantai Balihutuo, Gorontalo
[Boalemo, Gorontalo]
Permalink Saya lupa ini gereja atau mesjid ya? Apapun itu, bentuk bangunannya lucu, bagus.
[Ambon, Maluku]
Permalink Birunya air berpadu dengan putihnya pasir dan hijaunya pepohonan di Pantai Liang memang tiada duanya.
[Ambon, Maluku]
Permalink Bersantai bersama keluarga di Pantai Kemala saat sore hari memang tiada duanya.
[Balikpapan, Kalimantan Timur]
Permalink Duduk santai di bawah rimbunnya pohon di Beach House sembari bercengkerama memang tiada duanya.
[Balikpapan, Kalimantan Timur]
Permalink Menikmati bentangan Jembatan Barelang yang memesona di kejauhan memang tiada bandingannya.
[Batam, Kepulauan Riau]
Permalink Kegagahan Menara Jam Gadang di Bukittinggi memang tiada bandingannya.
[Bukittinggi, Sumatera Barat] 
Permalink Keindahan lereng Ngarai Sianok di Bukittinggi memang tiada bandingannya.There’s nothing like a beautiful Ngarai Sianok in Bukittinggi.
[Bukittinggi, Sumatera Barat] 
Permalink

Legenda Pulau Kemaro

Apa lagi yang bisa dilakuin kalo lagi keluar kota selain jalan-jalan dan jajan-jajan?  Hehe.. Waktu saya di Palembang, saya juga diajak jalan-jalan sama teman. Kalo ke Jembatan Ampera atau makan pempek ya udah pasti lah ya. Kali ini kita jalan (tepatnya berlayar) ke Pulau Kemaro. Biar gak punya laut, tapi Palembang punya pulau. Ajaib sekali bukan? Yah tentu saja. Ngadain SEA Games aja bisa, masa pulau gak punya #apa sih.

Pulau Kemaro ada di tengah Sungai Musi. Berhubung ada di tengah sungai, tentu saja kita harus naik kapal kalau mau ke Pulau Kemaro. Kalo ada di tengah lapangan monas mungkin bisa naek odong-odong. Untuk ke Pulau Kemaro, bisa naik kapal dari dermaga di depan Benteng Kuto Besak. Waktu itu karena kita berlima, jadinya sekalian aja sewa kapal. Ongkosnya kalo gak salah Rp. 50.000 per orang.

Di Pulau Kemaro ada sebuah klenteng yang saya gak tahu namanya. Pulau kecil itu benar-benar sepi, cuma ada beberapa kios pedagang. Suasananya juga sejuk soalnya banyak pohon besar. Di samping klenteng ada sebuah batu besar yang bertuliskan prasasti tentang Legenda Pulau Kemaro. Saya pikir legendanya itu seperti legenda Sangkuriang atau Bandung Bondowoso (tau gak luuh? hehe) yang menceritakan tentang terjadinya suatu tempat. Sangkuriang menceritakan terjadinya Gunung Tangkuban Parahu, dan Bandung Bondowoso menceritakan terjadinya…. Kota Bandung #eh.

Ternyata bukan.

Legenda Pulau Kemaro bercerita tentang putri raja bernama Siti Fatimah yang dipersunting (Duh bahasanya indah sekali. Dikawinin!) oleh saudagar Tiongkok namanya Tan Bun An. Suatu hari, Nyonya Siti Fatimah ini diajak suaminya ke Tiongkok untuk bertemu orangtua daripada Tan Bun An. Gak diceritain sih, mereka ngapain aja di China sana. Apakah jalan ke Tembok Besar atau ke Disneyland, entahlah.

Setelah puas vacation di China, pulanglah mereka ke Palembang. Tentu saja naik kapal karena waktu itu Garuda belum buka rute Palembang - Beijing. Orangtua Tan Bun An memberi 7 guci sebagai oleh-oleh. Sesampainya di perairan Sungai Musi dekat Pulau Kemaro, si Tan Bun An penasaran apa isi guci-guci itu. Ternyata pas dibuka, idiiiiihh… isinya… isinya… gimana ngomongnya ya.., soalnya ternyata isinya adalah… sawi asin! Ya udah aja tu Tan Bun An ngebuang guci-gucinya ke sungai. Anak durhaka! Oleh2 mamahnya dibuang..


Tapi pemirsa, setelah guci terakhir siap dibuang, ternyata tu guci jatoh dan pecah di lantai kapal. Ternyata isinya adalah.. hadiah! Gak diceritain hadiahnya apaan. Mungkin emas permata, uang, atau voucher belanja. Yang pasti hadiah berharga! Melihat itu, Tan Bun An langsung lompat ke sungai untuk mencari guci-guci yang udah dibuangnya. Seorang pengawal juga ikut lompat untuk bantuin Tan Bun An. Tapi setelah ditungguin..

Semenit…

Dua menit…

Sejam…

Sehari…

Seminggu…

Tan Bun An dan pengawalnya gak nongol-nongol juga. Akhirnya Siti Fatimah pun ikut melompat ke sungai (oooouh…) dan ketiganya gak pernah nongol lagi sampai sekarang. Apakah mereka menjelma jadi Pulau Kemaro? Ya gak lah, kan pas mereka tenggelem, tu pulau udah ada. Jadinya sekarang dibangun klenteng dan pagoda di pulau itu. Begitu…

Lumayan deg-degan juga naik kapal 30 menit ke Pulau Kemaro. Bukannya saya gak bisa berenang, tapi saya takut kalo ada apa-apa saya gak bisa nolongin semua temen saya. Apalagi sering papasan sama kapal yang kecil-kecil cabe gendot. Biar kecil tapi ngebutnya ampun-ampunan. Kalo tabrakan bijimane coba?

HOW TO GET THERE
Terbang dari Jakarta ke Palembang, banyak maskapai yang melayani rute ini. Mulai dari yang murah meriah atau bergaya premium. Jadwalnya juga banyak. Waktu tempuh sekitar 50 menit saja kalo pilih yang non-stop. Ada juga maskapai yang terbang langsung dari KL. Setelah sampai di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II, langsung lanjut ke Kawasan Benteng Kuto Besak. Paling gampang naik taksi saja sudah. Nah, di depan benteng, tepat di tepi Sungai Musi ada sebuah plaza yang sangat luas. Di situ banyak bersandar perahu tradisional. Silakan minta diantar ke Pulau Kemaro. Jangan lupa nawar!

Permalink Keindahan Pagoda Pulau Kemaro memang tiada bandingannya. There’s nothing like a beautiful Pagoda in Kemaro Island.
[Palembang, Sumatera Selatan]
Permalink Menyaksikan matahari terbit di Dataran Tinggi Dieng memang tiada bandingannya.There’s nothing like the sunrise in Dieng Plateau.
[Wonosobo, Jawa Tengah]